atas-info.jpg (11536 bytes)
icon-profil.jpg (8179 bytes)
icon-playan.jpg (8812 bytes)
icon-info.jpg (8881 bytes)
icon-cusm.jpg (8773 bytes)
icon-harga.jpg (9045 bytes)
icon-guestb.jpg (8917 bytes)
icon-astro.jpg (8763 bytes)
Mungkinkah Internet Sebagai Sarana Pendidikan?
 

Drh. Ikin Mansjoer MSc.*

Sejarah terbentuknya INTERNET sebagai Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) terbesar di dunia dewasa ini, rasanya sudah cukup banyak mendapatkan ulasan, baik di media tertulis maupun media film dan TV, termasuk di dalam media massa Indonesia. Berbagai surat kabar nasional, media radio dan TV (swasta maupun pemerintah) secara berkala menampilkan artikel atau feature mengenai INTERNET. Biasanya, ulasan atau informasi tersebut tidak luput dari kekaguman penulis atas fenomena yang sedang berlangsung, sehingga lama - kelamaan kita semua terka-gum-kagum atas kemunculan INTERNET namun barangkali banyak yang belum atau kurang kita ketahui secara baik mengenai dunia informasi modern INTERNET ini.

Belum lagi habis kekaguman kita, sekarang muncul pula INTRANET sebagai konsekuensi logis dari kehadiran INTERNET dengan segala kemungkinannya ini.

Sebagai pengamat INTERNET dan hanya sekali-sekali pengguna (putra-putra saya semuanya merupakan pengguna amat intens dari INTERNET), saya akan mencoba mengulas bagaimana orang tua dan juga sebagian besar golongan muda dapat memperoleh kemudahan dan manfaat dari INTERNET, sekaligus mengusahakan memberikan informasi tentang efek-efek negatif yang mungkin dapat timbul akibat penggunaan jasa INTERNET ini.

  1. Di Indonesia, perkembangan INTERNET apalagi INTRANET, baru dalam tahapan awal sekali. Meskipun jumlah provider atau penyedia jasa INTERNET sudah bermunculan di kota-kota besar termasuk di Bogor, pada dasarnya hampir semua provider masih berada dalam tahapan berkembang dan baru mempunyai anggota dari beberapa ratus hingga sekitar beberapa ribu saja. Bila kita bandingkan dengan kepadatan penduduk di kota-kota besar di pulau Jawa saja, rasanya jumlah pelanggan INTERNET di Indonesia masih sangat terbatas dan itupun kebanyakan baru pada tingkat business atau edukatif dan akademisi saja. Keadaan yang sama kita temukan diberbagai negara sedang berkembang di Asia Tenggara, meskipun misalnya di Singapura kesadaran keperluan akan informasi media elektronika semisal INTERNET ini sudah jauh lebih besar ketimbang di Indonesia. Sebagai pengamat, saya menganggap hal ini sangat menarik karena mempu-nyai persamaan dengan sarana informasi lain yang juga dianggap sangat penting yaitu buku ( dan segala macam bentuk informasi cetak lainnya).

    Di Indonesia, membaca merupakan masalah nasional yang sudah acap kali dibahas, baik di dalam
    seminar kecil-kecilan maupun dalam forum nasional. Kegemaran membaca masih perlu banyak
    ditingkatkan. Hal ini diakui oleh pejabat pemerintah maupun kalangan pendidik, orang tua, bahkan
    oleh kalangan muda sendiri yang biasanya dituding tidak gemar membaca dan tidak suka buku.
    Kegemaran membaca yang masih amat rendah di Indonesia ini mempunyai ba-nyak alasan. Harga
    buku yang tidak terjangkau, kesulitan memperoleh buku terbitan negara asing, adanya biaya tinggi
    pemasukan buku seperti pajak impor yang resmi maupun biaya lain yang terse-lubung dan keengganan masyarakat umum untuk membaca buku dalam bahasa aslinya semuanya dapat dikemukakan sebagai alasan yang berlaku di Indonesia. Penterjemahan buku asing ke dalam bahasa Indonesia pun masih jauh dari yang diharapkan, dan sangat kalah dengan negara seperti Jepang dimana ibaratnya hari ini buku asing diterbitkan dan besoknya sudah ada terjemahannya dalam bahasaJepang untuk konsumsi masyarakat yang tidak me-nguasai bahasa asing tersebut.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa kegemaran membaca juga sangat erat kaitannya dengan tingkatan
    kemajuan pendidikan di Indonesia. Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat kompleks
    dan memerlukan perhatian dan pendanaan yang sangat besar bila akan mau diatasi dengan sukses.
    Akibat dari pendidikan yang masih banyak masalah ini adalah bahwa bangsa Indonesia akan selalu
    tertinggal de-ngan bangsa negara sedang berkembang lainnya di Asia seperti Singapura, Malaysia, Taiwan apalagi dengan negara industri seperti Jepang. Salah satu contoh klasik yang banyak sekali
    dikemukakan oleh mahasiswa misalnya adalah bahwa buku teks yang dianjurkan hanya ada dalam
    bahasa Inggris, sehingga sulit dibaca apalagi untuk dimengerti. Saya sangat menganjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia, dimana dan kapan saja, namun hal ini tidak berarti bahwa kita tidak memerlukan pengetahuan dan pe-nguasaan bahasa asing seperti Inggris, Jepang, Cina, Spanyol atau Portugis.

    Bahasa-bahasa yang saya ungkapkan di sini merupakan contoh bahasa yang amat sering digunakan
    oleh pebisinis dan wisatawan asing dan digunakan juga diberbagai belahan dunia lainnya. Bahasa
    Inggris kini merupakan bahasa dunia yang mampu menggeser bahasa Perancis sebagai bahasa
    diplomatik dunia. Apalagi kini ada INTERNET yang dikembangkan di Amerika Serikat dan menggunakan istilah-istilah Inggris yang merupakan akronim. Sarana yang disediakan melalui INTERNET dapat membawa kita ke seluruh pelosok dunia sehingga penguasaan bahasa asing (paling tidak bahasa Inggris) akan sangat membantu dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi global yang diperlukan oleh bangsa Indonesia melalui INTERNET.

    Maka kini kita kembali pada hubungan INTERNET dengan pendidikan. Bila ditanya apakah ada hubungan yang erat antara keduanya, mungkin jawabannya adalah dengan memberikan pertanyaan
    yang serupa: adakah hubungan yang erat antara GURU dan pendidikan. Di dalam hal ini INTERNET dapat menjadi fungsi guru dalam suatu sistem pendidikan yang mandiri (diatur dan dikelola oleh yang menggunakan INTERNET) dimana pengguna mengambil informasi yang memberinya pengetahuan dan ilmu tambahan dari dan melalui jasa INTERNET untuk kepentingan, pengembangan pengetahuan umum dan khusus pribadinya. Kemampuan mengambil dan memanfaatkan apa yang tersedia melalui INTERNET sangat tergantung dari kemauan dankepribadian masing-masing pengguna. Secara singkat INTERNET dapat dipakai untuk :

    Melalui e-mail (surat elektronik) melakukan hu-bungan dengan perorangan maupun perusahaan, instansi, lembaga dst. Hubungan tersebut dapat bersifat menanyakan sesuatu (meminta informasi), memberikan kabar (memasukkan informasi), bah-kan bisa sampai melakukan transaksi (pembelian software komputer, peralatan tambahan, buku dsb.) hingga tukar menukar informasi ilmiah (dalam melaksanakan penelitian).
  2. Untuk mengetahui alamat-alamat penting yang diperlukan, kita dapat mempergunakan beberapa perangkat lunak yang kesemuanya bisa diperoleh melalui INTERNET (Netscape,Mosaic dsb.) dengan men"download" software itu.
  3. Mengiklankan produk kita ke khalayak global melalui pemuatan dalam "homepage" yang dapat diibaratkan sebagai tempat pengiklanan tetap selama kita menjadi pelanggan penyedia jasa INTERNET. Indonesia belum banyak menggunakan "electronic advertising" ini namun di luar negeri, terutama Amerika Serikat, sampai ada buku tebal "Yellow Pages" berisi homepage segala macam perusahaan dan lembaga serta perorangan. Buku demikian boleh dikatakan amat penting untuk dapat berselancar atau "surfing" di jaringan elektronik global atau "World Wide Web".
  4. Melakukan kongkow-kongkow atau ngerumpi secara interaktif antara kawan-kawan yang terpisah jauh. Untuk itu di beberapa negara asing, orang Indonesia dan beberapa kawan asing telah membentuk "warung kopi" dimana kita mencatatkan diri kemudian melemparkan pertanyaan atau sekedar mengajak ngobrol yang biasanya akan segera dijawab oleh peserta warung kopi yang lain.
  5. Mencari software yang dapat di"download" ke komputer sendiri untuk kemudian digunakan. Software demikian ada yang disebut "freeware" yang memang bebas digunakan tanpa harus membayar apa-apa, atau "shareware" yang dapat digunakan sebagai software demonstrasi untuk menilai kemanfaatannya dulu, sebelum kemudian kita membayar kepada pembuat software tsb. suatu "fee" atau bayaran yang biasanya tidak besar ( juga bisa dibayar melalui INTERNET dengan memberikan nomor kartu kredit yang kita miliki bersama dengan informasi masa berlakunya dan informasi lain yang diperlukan). Software demikian biasanya banyak dalam katagori GAMES dan UTILITIES, dua kelompok perangkat lunak yang
    sangat banyak dicari dan digemari.
  6. Memainkan CATUR antar pengguna INTERNET atau dengan mesin komputer yang telah diprogram untuk benjalankan program Catur.
  7. Men"download" multimedia seperti graphics, music strips dsb. Untuk keperluan membuat program komputer atau membuat penampilan komputer kita lebih menarik dan bervariasi.
  8. Berdiskusi dengan kawan-kawan di Indonesia atau negara lain tentang masalah :
  • musik (kontemporer, klasik, jazz, folk, tradisional, alat musik tertentu)
  • buku (roman, fiksi, detektif, falsafah, perang, bahasa, travel, pengarang)
  • ilmu dan teknologi (kedokteran, teknik, pertanian, biologi, fisika, nuklir)
  • business (produk, market, forecasting, peraturan, zona ekonomi)
  • hobby (fotografi, mobil, motor, elektronika, radio amatir, komputer, bonsai, koi,
  • perkutut, berkebun, memancing, berburu, membalap)
  • hewan kesayangan (anjing, kucing, hamster, iguana, parkit, ayam hias)
  • memasak (chinese, korean, japanese, indian, european, american, mexican, padang,
  • jawa, sunda, lombok, manado)
  • minuman (anggur, non-alcoholic, nasional, internasional)
  • transportasi ( air, darat, udara, angkasa luar)
  • linkungan (polusi, ekologi, hutan, air sungai, lautan, tanah, makanan)
  • penelitian (skripsi, tesis, tulisan orang lain)
  • Yang dikemukan disini hanya merupakan sebagian kecil saja yang dapat diperoleh melalui fasilitas
    INTERNET. Sengaja saya tidak mau mengutip aspek-aspek negatif atau berbau porno, narkotik
    dsb yang mempunyai pengaruh dan konotasi negatif, karena si pengguna sendiri yang harus menentukan apakah ia akan tertarik atau menginginkan melihat atau men"download" sampah demikian kedalam komputernya. Di INTERNET sendiri ada pendapat yang mendua tentang perlu tidaknya semacam sensor atas bahan demikian. Pendapat mayoritas adalah bahwa hak azasi manusia yaitu kebebasan untuk mengeks-presikan dirinya, tidak membolehkan suatu badan seperti INTERNET melakukan sensor, namun perangkat lunak sebagai penjaga batas seperti "surf-watch" disediakan oleh berbagai pihak untuk dapat mencegah bahan demikian diakses oleh anak-anak atau pengguna yang tidak mau menggunakannya.

    Bagaimana kemudian kita dapat menggunakan jasa provider dalam mengejar ilmu dan pengetahuan
    melalui INTERNET? Di Bogor pada saat ini hanya ada satu provider yaitu Bogor INTERNET atau Bonet yang selama ini diminati oleh mayoritas peneliti dan ilmuwan yang berdomisili dan bekerja disini. Meskipun masih ada keluhan seperi seringnya hu-bungan INTERNET terputus, terutama pada saat sedang "downloading" file dari INTERNET, serta lambannya kecepatan downloading tersebut berlangsung, pada umumnya pelanggan BONET merasa beruntung dengan adanya provider di kota Bogor karena dengan demikian kita tak perlu melakukan hubungan dengan provider di Jakarta atau
    Bandung melalui saluran telpon interlokal yang cukup mahal.

    Meskipun demikian, tidak seluruhnya benar bila kita berpegang pada "kecap" ucapan atau iklan semua provider, yang menjanjikan sebakul layanan yang murah meriah sehingga timbul kesan bahwa jasa INTERNET itu murah. Kita tetap harus membayar uang langganan bulanan dan tambahan biaya telpon yang meskipun lokal, pasti akan meningkat. Sebagai orang tua yang mengajurkan putra-putra saya agar menjadi pelanggan, saya terkejut ketika mendapatkan bahwa putra bungsu saya telah berhasil "meningkatkan" laba Telkom melalui tambahan biaya telpon bulanan, dari rata-rata Rp. 150.000 menjadi lebih dari Rp. 600.000 pada masa putra saya sedang "gila" INTERNET. Kini ia sudah "sadar" dan dapat menggunakan INTERNET dengan lebih efisien dan produktif sehingga biaya bulanan telpon hanya bertambah sekitar Rp. 150.000 saja. Hal ini saya kemukakan agar sebagai orang tua disadari bahwa "education cost money", bahwa tidak ada lagi yang gratis di dunia ini, apalagi dalam dunia pendidikan, sehingga bila kita mau me-nganggap fenomena INTERNET sebagai salah satu ujud pendidikan nonformal yang berlangsung sepanjang hidup, sudah wajarlah apabila ada biaya yang kadang-kadang cukup besar yang perlu dikeluarkan untuk itu.

    Bagaimanakah kita dapat melaksanakan pendidikan melalui sarana INTERNET ini ?  Kasus pertama adalah yang paling banyak ditemukan di Indonesia yaitu keadaan dimana seorang atau suatu keluarga memiliki komputer pribadi, sehingga de-ngan penambahan modem, dan menjadi pelanggan pada salah satu provider, jasa INTERNET telah tersedia. Ada beberapa paket jasa yang disiapkan untuk pelanggan, dari paket relatif murah yang keba-nyakan ditujukan kepada mereka yang memerlukan kemudahan e-mail dengan sedikit tambahan kemudahan memperoleh akses kepada World Wide Web, hingga ke layanan yang sangat istimewa, yang menjanjikan sangat banyak kemudahan lainnya.
    Alternatif kedua yang lebih murah adalah apabila di sekolah atau universitas tersedia layanan INTERNET secara terpadu, sehingga si murid atau mahasiswa tinggal mengaksesnya saja tanpa perlu memikirkan adanya biaya tambahan. Meskipun di Indonesia hal ini belum dilakukan (barangkali di masa yang dekat ini di beberapa PT besar) di luar negeri hal ini sudah sangat umum dan biayanya dimasukkan ke dalam pembayaran tuition fee (SPP) tahunan.
    Alternatif ketiga yang dapat saya bayangkan adalah apabila beberapa mahasiswa kos yang masing - masing sudah punya komputer, membuat suatu Local Area Network (LAN) sederhana di rumah kosnya dan mempunyai satu sambungan telpon dan satu langganan kepada provider INTERNET. Biaya yang dikeluarkan dengan demikian dapat dibagi karena sangat jarang semua mahasiswa akan memerlukan akses INTERNET secara bersamaan dan biasanya hanya untuk jangka waktu yang pendek saja.

    Kasus terakhir dapat dibayangkan bila sudah ada Computer Shop (seperti di Batutulis Computer) yang dapat menyediakan penyewaan komputer untuk meng-akses INTERNET. Di Jakarta, kini sudah mulai bermunculan kafe-kafe INTERNET demikian dan ternyata sangat laris. Sewa komputer demikian dapat disesuaikan dengan tipe pelanggan yang diperkirakan akan menyewa fasilitas tersebut (Rp. 5000 s/d Rp. 10.000 perjam). Untuk seseorang yang hanya memerlukan akses terbatas selama waktu yang pendek, mungkin alternatif terakhir ini sangat menarik.

    Pembahasan kegunaan INTERNET untuk pendidikan ini masih dapat dilanjutkan dengan mengemukakan segi-segi lain yang belum sempat disinggung di sini. Harapan saya adalah bahwa yang telah dibahas dengan sangat singkat ini dapat membuka wawasan semua pihak, baik yang sudah maupun yang masih berkeingin-an untuk menggunakan INTERNET bahwa sarana ini bisa sangat bermanfaat bila digunakan de-ngan baik dan benar.

    * Pengajar di IPB

    icon-home.gif (559 bytes)

     

    icon-mail.gif (2468 bytes)
     
    Design by BoNet
    1999, Batutulis Computer Bogor